Most Popular

Di Balik Jubahnya, Ada Kisah Air Mata dan Mimpi Besar: Perjalanan Ustaz Fatih Karim Menuju Indonesia Cinta Quran

"Di titik nadir itulah, cahaya petunjuk datang. Seolah bisikan Ilahi, Fatih mulai terseret ke dunia dakwah"

6 min read



Udara Medannya yang lembab memeluk bayi mungil Muhammad Fatih Karim saat pertama kali ia menyapa dunia. Lahir dari rahim seorang perempuan tangguh yang berjuang menjadi TKI di Malaysia dan ayah pejuang hukum, kecil Fatih tak mengenal kemewahan. Kehidupan keluarganya sederhana, jauh dari hiruk-pikuk pesantren dan balai pengajian.

Fatih kecil menapaki pendidikan laiknya anak-anak pada umumnya. Ia gemar berlari tunggang-langgang, bergulir di tanah, dan mencuri-curi pandang pada pedagang buku bekas di pinggir jalan. Jurusan agribisnis di IPB Bogor menjadi pelabuhan kuliahnya, jauh dari bayang-bayang sorban dan jubah. Namun, takdir punya rencana lain.

Bencana melanda saat Fatih menapaki gerbang pernikahan. Ekonomi keluarga bagai perahu dihantam badai. Jualan kerupuk dan buku di pinggir jalan, bayangan gelap rumah kontrakan, serta tagihan rumah sakit yang kian menggelembung menguji iman dan cinta. Di titik nadir itulah, cahaya petunjuk datang. Seolah bisikan Ilahi, Fatih mulai terseret ke dunia dakwah.

Awalnya kaku dan canggung, ia belajar Islam dari kawan dan kitab. Forum-forum pengajian kecil menjadi panggung pertamanya, di mana ia meraba-raba mengurai ayat dan hadis. Lama-kelamaan, suaranya kian lantang, bait-bait hikmah mengalir bagai mata air jernih. Fatih muda pun menjelma menjadi Ustaz Fatih Karim, pembawa dakwah yang disukai banyak orang.

Namun, tak semua kisah bertabur bunga. Kritik pedas tentang dakwah yang "dibisniskan" menusuk telinganya. "Mereka bilang saya ustaz radikal," kenang Fatih. "Tapi, justru saya ingin dakwah tanpa batas, tanpa sekat, tanpa tarif mahal."

Maka, lahirlah Cinta Quran. Lembaga nirlaba yang bergerak membebaskan buta aksara Quran, mencetak Dai, hingga membangun pesantren. Fatih tak ragu bermitra dengan pengusaha, meramu bisnis halal yang menopang dakwahnya. Ia tak pernah malu mengaku, "Saya pengusaha. Tapi, bisnis untuk dakwah, bukan dakwah untuk bisnis."

Indonesia Cinta Quran, itulah mimpi besar Fatih yang berapi-api. Sebuah negeri yang makmur dan berkah, diatur oleh nafas Quran, di mana tak ada lagi kezaliman dan kemungkaran. Ia tak henti membangun rumah tahfiz gratis, aplikasi Quran, dan program-program pemberdayaan yang menyentuh banyak lapisan masyarakat.

Perjalanan Fatih tak sepi duka. Sahabat dekat seperjuangan, Ustaz-Ustaz panutan bertumbangan wafat di usia muda. "Usia berapa kita meninggalkan dunia ini?" tanyanya retoris. "Dan karya terbaik apa yang kita bisa tinggalkan?"

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Fatih kian gigih mengejar mimpi besarnya. Ia telah membebaskan ratusan ribu orang dari buta aksara Quran, mencetak ratusan Dai muda, dan membangun pesantren besar nan megah. Namun, masih ada banyak mimpi yang menari-nari di pelupuk matanya.

"Saya ingin mati di usia Nabi," ujarnya lirih. "Di mandikan dengan air sumur Gors, seperti beliau. Bukan karena ingin menyamai, tapi karena ingin meninggalkan dunia dalam keadaan 'tugas selesai'."

Benar, di balik jubah dan sorban Ustaz Fatih Karim, terhampar kisah air mata dan perjuangan, mimpi besar dan ketulusan. Kisah yang mengajak kita merenungkan, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dengan biasa-biasa saja. Bahwa jejak kebaikan, itulah harta sejati yang tak lekang oleh waktu.

Maka, mari kita sama-sama berlari mengejar mimpi, mewujudkan cita-cita. Tak peduli siapa dan apa kita, selalu ada ruang untuk berkontribusi, menabur kebaikan, dan menjadi bagian dari kisah indah Indonesia Cinta Quran. Kisah yang ditulis dengan tinta keikhlasan, di bawah cahaya petunjuk Ilahi.

Post a Comment